Rumahku disini.

aku memang jarang berada di rumah, ibu. tapi sungguh, udara malam yang di luar sana mengingatkan aku pada dekapan ibu.

aku memang jarang menanyakan kabarmu, bapak. tapi sungguh, setiap sujud terakhir dalam solatku, aku persembahkan untukmu.

bapak, saat pulang larut, engkau hanya berdiri di depan pintu, menatapku dari ujung kaki hingga kepala. tiada kata yang terurai. saat itu aku benar-benar malu dan ingin sekali rasanya meminta maaf kepadamu. aku sadar betapa aku tidak tahu terimakasih.

ibu, saat aku pulang larut, entah kenapa engkau sengaja bangun dari tempat tidurmu hanya untuk sekedar menanyakan apakah aku sudah makan. aku malu, ibu. bahkan anakmu tidak membawakanmu makanan super lezat dan mahal yang baru saja aku habiskan bersama teman-teman.

kadang aku malas membalas pesan singkat yang selalu bertanya aku ada dimana. tapi Bapak, tahukah engkau, kini aku menantikan nya setiap hari?

kadang aku merasa engkau mengganggu kebersamaanku dengan teman-teman. tapi ibu, tahukah engkau, sahabat terbaikku adalah dirimu sendiri?

ibu, rasanya sekarang ingin sekali aku kembali menjadi anak kecil. mengurai dan kembali melihat bagaimana aku tumbuh, belajar, dan dewasa seperti sekarang. 

kalian kini nampak tua dan lelah.

bapak, ibu, dalam hening sepi ku rindu, untuk menuai kebahagiaan kecil milik kita.

bapak tidak perlu tahu, anakmu berdoa agar engkau tidak segera pergi karena engkau harus melihat hasil didikanmu ini mencoba membahagiakanmu.

ibu tidak perlu tahu, anakmu berdoa agar engkau senantiasa sehat sehingga bisa datang menjemput anaknya yang sedang berjuang.

ketika aku pergi melangkah sejauh ini, aku benar-benar sadar bahwa rumahku ada pada pangkuan kalian. tapi kini anakmu sedang terbang. terbang, yang dulu kalian ajarkan caranya padaku. yakinlah suatu saat aku pasti kembali dan akan aku ceritakan bagaimana aku menjelajah diluar sana.

jangan khawatir, aku tahu benar kalian mengkhawatirkan aku, aku kini hanya sedang berusaha berdiri sendiri, seperti katamu, bapak. laki-laki harus mandiri.

saat aku pergi, engkau hanya tinggalkan petuah sederhana. tiap kata aku ingat persis dalam jiwa. bapak, aku berjanji akan aku kirimkan, doa yang engkau ajarkan kepadaku.

sementara ibu tidak mau berkata-kata apa-apa. dia menunduk. seperti hampir menangis. ingin sekali aku sampaikan, “aku pasti kembali”. tapi saat itu semua seolah terhenti. aku tidak sanggup.

saat aku merindu, hanya tafakur yang bisa aku lakukan. biarkan Tuhan yang menjaga kalian. 

dan aku bangga jadi anakmu. 

untuk Bapak dan Ibu