padahal saya percaya masih ada sisa-sisa ruang untuk itu. Kasihan. terlalu banyak sejarah yang tidak kita tahu hanya karena jumlah museum tidak sebanyak jumlah mall. Bukankah museum adalah sebuah teater statis untuk berbagai pertunjukkan gratis?

jutaan orang bahkan rela membayar 7 Euro untuk masuk ke Jewish museum di Berlin -diluar dari pengaruh sang arsitek- yang sejarahnya tidak jauh lebih menarik daripada sejarah bangsa kita. mungkin memang, orang “sini” tidak akan mau membayar segitu mahalnya. tapi tidakkah kita tahu museum Bank Indonesia di Kota Tua Jakarta menawarkan tiket gratis setiap harinya? saya kaget, Indonesia punya museum semenawan ini. suguhan koleksi yang luar biasa dan display interaktif hampir setara dengan museum di Marina Barrage Singapore bisa dinikmati cuma-cuma. Bangsa, oh bangsa.



lagi satu, Ullen Sentalu di Yogyakarta tak kalah membuat merinding. Pengolahan alam, kualitas cerita yang dijual, dan nuansa hutan tropis kaki Merapi ini ternyata dirancang oleh seorang dokter. Dokter! -malunya arsitek Indonesia-. Mungkin nama ‘museum’ sudah saatnya diganti. tapi apa? kuburan?


Sementara Museum Geologi Bandung masih berusaha untuk bangkit. harga tiketnya saja sudah dua ribu. atau kalau mau lebih mahal, coba saja ke Museum Batik Danar Hadi di Solo -tiga puluh lima ribu dengan pengalaman luar biasa-. tapi ya sama saja, keduanya masih sepi.
Oke, museum kita memang masih jauh dari sempurna. tidak se-bebas dan se-dalam Holocaust Museum (Eisenmann) ataupun tidak se-kontemporer MAXXI (Hadid). saya pun bisa mengerti anggaran pemerintah untuk museum tidak banyak. tapi dari mana lagi kita bisa belajar cuma-cuma?

Arsitektur tidak bisa dipungkiri menjadi salah satu faktor museum tenar atau tidak. tapi saya berbicara di sini bukan sebagai arsitek. saya cuma penikmat sajian sorot-sorot lampu redup dalam ruang berplafon tinggi, kadang mereka tidak tahu, ini adalah museum.
Karena saya percaya, masih ada sisa-sisa ruang untuk itu.
dan museum bukan lah mengenai bungkus. tapi isi.
dan semoga museum bukan hanya jadi cerita tentang meninggalkan dan yang ditinggalkan.
19 November 2011.